BERITA PEMDA

Optimistis Kobar Swasembada Sayur

 PANGKALAN BUN- Beberapa hari belakangan ini Bupati Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Hj Nurhidayah gencar melakukan monitoring ke pertanian di sejumlah desa. Beberapa di antaranya pertanian bawang merah.

 Seperti biasa yang ia lakukan mengajak para petani untuk berbincang menyerap aspirasi langsung dari petani dan kemudian memberikan solusi, jika ada suatu kendala yang dihadapi para petani. Seperti hari ini, bersama dinas terkait, Dandim 1014/Pbn dan tokoh masyarakat Kobar, HM Ruslan AS mengunjungi kelompok tani (Poktan) Tunas Baru RT 12, Desa Kumpai Batu Atas, Rabu (26/7).

  Ketua Poktan Tunas Baru RT 12 Desa Kumpai Batu Atas, Heri menyampaikan poktan yang berisi 18 orang anggota itu mengelola lahan pertanian seluas enam hekatare dan ditanami bawang merah serta beberapa jenis sayur mayur dan buah buahan.

  “Sekarang kami berfokus pada komoditas bawang merah. Tapi kami terkendala dengan kurangnya pasokan air untuk menyiram tanaman, karena embung yang ada airnya sudah tidak mencukupi dan perlu digali lagi. Kalau bisa mohon bantuan alat berat untuk menggali embung air itu lagi,” pintanya kepada bupati, kemarin.

   Selain itu, ia juga mengharapkan agar pemerintah bisa mencarikan solusi terkait masalah pupuk berupa abu boiler dan pemasaran hasil panen.

   Bupati Kobar Hj Nurhidayah mengatakan, tanah Kalimantan ternyata juga cocok untuk pertanian sayur mayur, contohnya bawang merah. Ke depan ia sangat optimistis dengan dukungan pemda hasil yang maksimal akan swasembada sayur.

  “Kita optimistis Kobar bisa swasembada sayur. Dalam hal ini tentunya bagi para petani asal ada kemauan yang keras, kami akan selalu mendukung.” tegasnya.

   Menaggapi permintaan para petani, lanjutnya, ia akan memprioritaskan membuka embung itu terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan air para petani. “Besok (hari ini, Red) akan kami kirimkan alat berat itu ke sini,” imbuhnya.

   “Hanya saja saya minta, agar hasil panen nantinya tidak dijual semua, disisakan untuk bibit penanaman berikutnya,”tanbahnya.

   Sebenarnya bagi para petani yang terkendala dengan biaya bisa diatasi dengan anggaran dari dana desa (DD) dan alokasi dana desa (ADD). Hanya saja yang selama ini terjadi penggunaan dana itu tidak terarah dan hanya berfokus pada pembangunan fisik saja. Dalm hal ini ia berkeinginan agar Bumdes bisa dihidupakan lagi atau bermitra dengan bank yang siap membantu dalam pembiayaan.

    “Sehingga apa yang diperlukan para petani bisa diambil dari Bumdes yang mengelolaannya. Secara tidak langsung pun bumdes akan berkembang dan bisa turut serta membangun daerah,” jelasnya.

    Ia mencontohkan, di Desa Umpang melalui bumdes membeli ekskavator mini yang bisa digunakan poktan di daerah itu. dengan adanya bumdes bisa mengakomodir semua sektor tidak hanya pertanian, bisa juga perikanan seperti tambak ikan.

    “Saat ini kami msih menyiapkan regulasi penyiapan payung hukumnya,” sambutnya.

    Ia menambahkan, masalah modal dan pemasaran, tidak usah dipikirkan, pemda akan berusaha mencari solusinya.”Pelu diingat kami memiliki tiga program unggulan salah satunya infrastruktur difokuskan se sentra-sentra pertanian, sebagai sarana transportasi mempengaruhi harga jual produk petani.

    “Pariwisata, Desa Kumpai Batu Atas sudah ditetapkan menjadi daerah ketahanan pangan kobar dan bukan tidak mungkin melalui pertanian kita bisa membuka objek wisata berupa agrowisata,” pungkasnya.

    Sementara, tokoh masyarakat Kobar, HM Ruslan menuturkan, ia menanggapi masalah pemasaran yang menjadi keluhan bagi para petani. Menurutnya, para petani kewalahan mengikuti warga di pasaran.Untuk masalah ini harusnya para petani lokal harusnya bisa mengikuti harga pasaran. Sebagai contoh buah, janagan memasang harga lebih tinggi dari yang ada dipasaran.

     “Keunggulan petani lokal adalah kesegaran produknya karena jaraknya, berbeda buah yang dikirim dari Pulau Jawa. Saya rasa itu menjadi kelebihan produk petani lokal dan mampu bersaing di pasaran,” ujarnya.

     Intinya, dalam hal pertnian dan apa pun sektornya harusnya bisa berhasil dengan bantuan dan dukungan dari pemerintah daerahnya. Ketegasan kepaladaerah pimpinan dinas-dinas terkait yang acap kali ketika turun ke lapangan, tapi tidak ada tindak lanjutnya.

    Masalah keuangan sebenarnya tidak jadi masalah, Pemda punya Bank BPR. Hanya saja yang paling penting itu kemauan dinas terkait yang harus fokus membantu para petani. Jangan hanya turun ke lapangan dan memberi bantuan, tapi tidak ada tindak lanjutnya seperti pembinaan atau memberikan solusi tepat dan pasti bagi keluhan-keluhan yang disampaikan petani.

    “Contohnya ini, petani butuh alat berat dan pupuk, kenapa tidak segera saja ditindaklanjuti. Besok antar alat besar itu ke sini, jangan menunggu-menunggu saja, keburu tanaman para petani rusak,” tungkasnya.

 

(KALTENG POS, Kamis 27 Juli 2017)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *